Sexy Time ...

Dari blog-nya Meg Cabot :) di http://www.megcabot.com/diary/

HOPE IT ARRIVES IN SEMARANG SOON!!!!!!!

Well, you know what time it is:

That’s right!  Sex and the City the movie time!

It’s finally here!

I’m so excited…

Can you tell?

These photos aren’t from the movie, though….

…they’re from the current issue of Vogue. Here’s a link to the article (it also features a video of the photo shoot with a Vogue-related scene from the movie and some banter between Chris Noth and Sarah Jessica Parker).

Sigh. So pretty! So impossibly unlike real life (if you ever tried to make out like that in any museum in New York the docents would totally make you stop)!

But that’s why it’s fun.

So we all know what we’re doing this weekend…. 

But what are you doing on June 19th? Well, if you live in or around Memphis, TN, and you haven’t made any plans yet, feel free to join me for lunch (and later on that day, come to a book signing)!

Your official invitation….

Click here for a link to a form to fill and mail in to make your reservation for a seat at the Justine REAL Girls luncheon (the book signing is free and no reservations are necessary).

I really hope to see you there!

And remember, if you can’t make it there, I’ll be in Toledo on June 10th!

And don’t forget:

Queen of Babble in the Big City is finally out in paperback (just in time for Queen of Babble Gets Hitched, coming June 24)!

While on the wedding front….

Ashlee Simpson-Wentz has finally admitted she’s pregnant, but those of us who get People Magazine already knew that because her baby bump was readily apparent in her wedding photos (she’s way more than three months along). However, People.com has cruelly refused to release these photos online (I really wanted to link to them, because she looks super cute in all of them. Maybe they’ll go online someday).

Speaking of baby bumps, this is where Angelina Jolie and Brad Pitt are going to be living for the next three years:

It’s in Provence.  It has 34 bedrooms.  It costs $60 million if you want to buy it, but they’re just renting. 

I don’t see a pool, do you?  I mean, a lake is okay, but as everyone who lives in Florida knows, there is currently a deadly amoeba living in our lakes which has already killed multiple people. 

If I were the Jolie-Pitts, I’d try to get my money back. Who knows when this bacteria will spread to France? If it’s anything like the Andromeda Strain, the movie (which started out okay but ended up being the stupidest TV movie ever, except the one where the city of New Orleans was hit by an earthquake and started sinking and they ended up spraying insulation foam under it in order to save it), it’s only a matter of time.

I was so depressed about the ruling giving that FDLS cult in Texas their kids back (so the men in it can continue preying on the teenage girls, who one justice wrote are “demonstrably endangered.” I mean, they could have just given back the little kids and the boys) that I was going to post a picture of Heidi Montag and Spencer Pratt and a note about how icky they are, because when icky things happen, I think you should always put a picture of Heidi and Spencer on your blog.

But then I found something to cheer us all up: 

Clive Owen, peeking out from his hotel room in Rome to ask, “Has anyone seen my shirt?”

Anyway, let’s just hope Sex and the City doesn’t end like this:

That’s Ricky Schroeder, floating in a vat of blue goo at the end of Andromeda Strain

Please don’t let Carrie and the girls end up floating in a vat of blue goo….

…even if they ARE doing it to save the world.

More later.

Much love,

Meg

                            

Ikut Lomba

Teman-teman,
Aku ikut lomba nih. Tolong dong dikunjungin blog baruku yang beralamat di:

http://nanas-readings.blogspot.com

Jangan lupa nulis komentar yah?

I do appreciate what you do for me.

Love,
Nana

Harkitnas 2008 di Semarang

Dalam rangka memperingati perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun, sekaligus untuk ‘mengingat kembali’ peristiwa Mei hitam sepuluh tahun yang lalu (peristiwa yang kedua ini dikemukakan oleh ketua panitia Harjanto Halim), warga kota Semarang mengadakan tiga kegiatan sekaligus yang diselenggarakan pada hari Jumat 23 Mei dan Sabtu 24 Mei 2008.  

Pada hari Jumat pagi, sekitar pukul 08.00-12.00 diselenggarakan bedah buku PUTRI CINA, sebuah novel yang meramu antara mitos dan sejarah hasil karangan Sindhunata. Acara diselenggarakan di gedung Study World Jalan Kyai Saleh Semarang.

Malam harinya diselenggarakan pertunjukan ACAPELLA MATARAMAN dari Jogja di panggung utama Waroeng Semawis, Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang.

Sedangkan acara puncak adalah pementasan ketoprak PUTRI CINA yang ide utamanya diambil dari novel karangan Sindhunata. Ketoprak dipentaskan oleh kelompok ‘Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta' pada hari Sabtu pukul 18.30 sampai menjelang tengah malam.

Pada acara puncak ini hadir para petinggi Semarang/Jawa Tengah, seperti Gubernur Ali Mufiz beserta ibu, Wali Kota Sukawi Sutarip beserta ibu, bahkan hadir pula Bupati Kudus. Para budayawan yang hadir dalam acara ini Eko Budiharjo (mantan calon ‘calon gubernur’ Jawa Tengah yang tidak jadi), Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.

 

Apa hubungan antara hari Kebangkitan Nasional dengan etnis Cina? Mengapa acara yang diselenggarakan sangat berbau etnis yang satu ini?

 

Mungkin pertanyaan ini akan keluar dari benak para pembaca blog ini.

 

Konon ide mementaskan ketoprak PUTRI CINA ini pertama kali dikemukakan oleh Anton Wahyu yang bekerja di TB Gramedia (Gramedia merupakan penerbit novel Sindhunata ini). Haryanto Halim, salah satu penggiat budaya di kota Semarang segera menyambutnya dengan antusias. Panitia yang terdiri dari beragam etnis, agama, profesi, dan kalangan pun terbentuk dan bekerja keras untuk mewujudkan pertunjukkan yang diharapkan merupakan benih untuk menggiatkan kegiatan kebudayaan di kota Semarang, terutama.

 

Masih ingat peristiwa ‘lampion Cina’ yang bertebaran di beberapa jalan protokol di kota Semarang bulan Agustus 2007 yang lalu? Seorang budayawan yang pada waktu itu menggugat digantungkannya lampion Cina karena mengkhawatirkan kecemburuan etnis lain (baca è etnis Jawa dan Arab) pun menyumbangkan sebuah puisinya dan membacakannya pada acara puncak.

 

Mengacu ke sebuah artikel yang dimuat The Jakarta Post yang berjudul “Another May Tragedy Possible” (bisa dicek di http://themysteryinlife.blogspot.com) kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu, yang dibarengi oleh demonstrasi massa, dimana aparat tak segan-segan menangkap para demonstran (layaknya yang terjadi di zaman rezim Orde Baru) yang terjadi di beberapa kota di Indonesia, usaha panitia untuk lebih memasyarakatkan ide pluralisme/multikulturalisme lewat pertunjukan ketoprak PUTRI CINA tentu saja terasa sangat pas. Ide utama ketoprak ini—untuk merangkul semua etnis agar menjadi satu, tak ada lagi saling curiga yang tidak perlu—sangat perlu diketahui oleh masyarakat luas, terutama kalangan bawah, agar tak lagi mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang hanya bermaksud mengail di air yang keruh, agar tak lagi terjadi peristiwa hitam saling membunuh anak bangsa sendiri.

 

Agar Indonesia benar-benar bangkit.

 

PT56 16.11 250508

   

Bensin oh bensin

Seusai mengajar pukul 19.00 di kawasan Tembalang malam ini, aku baru menyadari bahwa aku harus segera membeli bensin. I was wrong to predict that I could buy the gasoline tomorrow.
Meskipun begitu toh aku tetap dengan keras kepala tidak mau mampir ke SPBU yang terletak di pojok jalan yang akan masuk ke kawasan Bukit Sari alias ujung atas Gombel. Males, karena harus menyeberang, mana gelap dan gerimis!
Sesampai di SPBU di depan rumah dinas Direktur BI (kalo ga salah ) pokoknya yang berseberangan dengan Taman Sudirman (again, kalo ga salah ), aku tetap saja melaju. Tujuanku SPBU yang terletak di Jalan Indraprasta, ga jauh dari kantorku yang terletak di Jalan Tendean, langgananku beli bensin, yang hitungan liternya selalu bisa dipertanggungjawabkan (at least, based on my experience). But aku kecele, ada tulisan besar 'menyambut' kehadiranku (juga para calon pembeli yang lain) PREMIUM HABIS.
G U B R A K!!!
Bukan apa-apa, kalo aku benar-benar kehabisan bensin, bakal aku harus menuntunnya sampai rumah, setelah menjemput Angie yang sedang kursus Bahasa Inggris di kantorku yang di Tendean. Walhasil aku sudah membayangkan aku dan Angie, kedua perempuan yang sama-sama mungil ini berjalan kaki, aku sambil menuntun motor sampe Pusponjolo. Nah lo!!!
Well, aku sudah pernah sih menuntun motor dari kawasan Indraprasta sampe rumah. But aku tentu males harus mengulang lagi. Mana aku HARUS melihat my Lovely Star berjalan bersamaku, malam-malam. (How I always want to protect her, not to make her in an unconvenient situation.)
But I had to try to get gasoline first, didn't I?
Aku langsung ke SPBU yang terletak di pojok Jalan Hasanudin.
Sesampai sana ... my goodness!!! Banyak banget yang sudah ngantri???
But aku ya lega karena ga ada, atau belum ada, tulisan PREMIUM HABIS.
After I got what I needed, aku sempat menjepret orang-orang yang ngantri membeli bensin dengan digital camera yang ada di hapeku. But tentu aku ga bisa langsung upload foto itu di sini.
Indonesian government has declined in serving the citizens, do you agree with me? Everything seems in chaos recently!!!
Beberapa hari lalu Angie sempat bertanya kepadaku, "Mengapa sampai terjadi bensin langka Mama?"
"Orang-orang yang egois menimbun bensin untuk kemudian menjualnya lagi setelah harga naik. You know, honey, presiden sudah mengumumkan akan menaikkan harga BBM kan?
This absolutely broke my heart.

KPDE 20.41 220508

Breastfeeding Bill?

This recent week one mailing list I join has been talking about the plan of the Health Institution of South Sulawesi to issue a provincial bill to (somewhat) force women who just deliver babies to breastfeed them as well as to manage the distribution of formula milk in the area. The deputy head of the Health Institution, Saad Bustam said that there was a tendency for women (especially working women) nowadays to give their babies formula milk instead of breastfeed them with practicality as the main reason while in fact it is believed that mothers’ milk is the best for babies. The background of this plan is because Human Development Index of the area is in the twenty-third rank. It is assumed that giving mothers’ milk to the babies will improve the quality of human resources in the area so that in the future it is expected to be able to increase the Human Development Index.
The discussion of this subject in the mailing list is related to the anti pornography bill that eventually just makes women criminals. For example, women are not allowed to wear sheer clothes that will turn on men in public places. When sexual abuse is done by those men, due to the sheer clothes women wear, the women will be imprisoned. So, instead of protecting women from sexual abuse, the anti pornography bill just makes women criminals.
So will the “mothers’ milk bill”, I assume. When a woman cannot breastfeed her baby—with so many reasons, such as the woman has to go out of town to work while she doesn’t have money to bring the baby with her so that she has to leave the baby in the village where the grandmother, or any other female relatives, takes care of the baby, or because of natural cause, the woman cannot produce any milk from her breasts, which is oftentimes possible to happen—the woman will be put in jail, or pay fine.
A good thing has been done by the Health Institution though: providing special rooms for women who want to breastfeed their babies in malls so that the women do not do that in open public areas. Related to the anti pornography bill, a woman can be imprisoned too when she breastfeeds her baby in a public area. She will be accused to intentionally show the sensual part of her body—breasts.
*****
When delivering my baby in 1991, I did that in one midwife’s house close to my dwelling place. Before my breasts produced milk, the assistant of the midwife prepared a glass of sugared water to give Angie when she was crying because of feeling thirsty or hungry. We used a small teaspoon to put the water into Angie’s tiny mouth. (She weighed 2.6 kg and 49 cm long.) Several hours after that, my breasts produced milk and I could breastfeed Angie directly. The midwife also prepared a box of formula milk in case we needed that. The midwife opined that it was better not to give the baby any formula milk yet before the mother produced milk.
I concluded that the midwife wanted to indirectly campaign to breastfeed babies for women who delivered babies in her house. This is absolutely good.
FYI, I breastfed Angie till she was four months old without giving her any other milk or any food. After that, I still breastfed her until she was one year old, (because I had to resume my study out of town and she was with her granny) but of course plus food. I started to give her formula milk when I was busy resuming my study.
*****
Recently when some good friends of mine got married, got pregnant, and then delivered their babies in hospitals (not in a midwife’s house like my experience), I heard similar experiences. Before their breasts produced milk, the nurses gave the babies formula milk when the babies cried. They apparently didn’t have patience to wait until the babies’ mothers could breastfeed them. Or perhaps there was cooperation between the hospital and the formula milk distributors for profit.
What happened after that? Some friends told me that their babies didn’t want to drink the mother’s milk, they chose the formula milk instead. That was the first liquid they tasted and they didn’t want any other. Some others said that they still could breastfeed their babies, but not as the main milk, only as the additional one.
*****
Is breastfeeding included women’s destiny? So that they are not supposed to avoid it? I don’t agree with it although only women have breasts, and not men. Under some special circumstances, some women cannot produce milk from their breasts although they just deliver babies. What is wrong? Well, I never know why.
When Angie was born in April 1991, there was a neighbor of mine who delivered her baby several weeks afterwards. Without knowing why, her breasts didn’t produce any milk so that she had to give her baby formula milk. She felt very disappointed but any effort she did to make her breasts produce milk was in vain. Was she a bad mother? Of course not. What happened was really beyond her capability.
PT56 11.45 190508

Cervical Cancer

Doctors warn about cervical cancer

By Desi Nurhayati

 

Doctors have warned women to be aware of the risk of cervical cancer, a disease that usually shows no symptoms but has the highest mortality rate of cancers in Indonesia.

An estimated 20 women die of cervical cancer in Indonesia everyday, and 41 new cases are diagnosed, according to Yanto Sinaga, an obstetrician and gynecologist from the Indonesian Cancer Foundation.

“Breast cancer is the most deadly disease for women in the rest of the world, but in Indonesia it is second to cervical cancer,” Yanto said in a discussion recently.

Cervical cancer affects more than 500,000 women worldwide annually, killing half of them. about 80 percent of women with cervical cancer live in developing countries, including Indonesia.

The cervix is the part of the woman’s reproductive system that connects the uterus to the vagina.

Cervical cancer is usually caused by human papillomavirus (HPV)m a sexually transmitted virus.

“Promiscuity is among risk factors for cervical cancer. Women who have more than six sexual partners and those who first have sex before the age of 15 are at a higher risk of infection,” Yanto said.

“A man who has sex with a woman who carries HPV could pass the virus to another woman, even if he uses a condom.

He said the risk for women who used hormonal contraceptive such as contraceptive pills for more than four years was about one to one-and-a-half times higher than that for other women.

Women who smoke, have an insufficient antioxidant intake or a high birth rate are also among the high-risk groups, he said.

According to the American Cancer Society, cervical cancer is usually diagnosed in women aged between 35 and 55 years old, but it can occur at younger ages.

Even though about 92 percent of cervical cancer cases are asymptomatic, especially in the early stages, Yanto said women should be aware of certain signs that might appear.

“Abnormal vaginal discharges and bleeding during sexual intercourse are some of the symptoms,” he said.

“In the mid and late stages, the disease usually causes metabolic disorders because it affects major organs such as the kidneys and the liver.”

To test for signs of cervical cancer, the American College of Obstetrician and Gynecologists recommends an annual pap smear for sexually active women aged 28 years and above.

Pap smears have helped reduce the incidence and mortality rate of cervical cancer in many countries.

To conduct a pap smear, a doctor inserts a speculum into the patient’s vagina to collect a cell sample from the cervix.

“Unfortunately, many women in Indonesia are still reluctant to have a pap smear because they are shy. In many cases, women think it is not necessary to have the test because there are no symptoms of the disease,” Yanto said.

Immunization against HPV could prevent the disease, but does not guarantee immunity because the vaccine currently available cannot fight all types of HPV.

Cited from The Jakarta Post

Tuesday April 29, 2008

Page 9

 

 

Nana Podungge

Seperti yang telah kutulis di post sebelum ini, tatkala kenarsisanku muncul sewaktu ngenet, hari Sabtu 3 Mei 08 kemarin aku pun OUT OF THE BLUE menemukan seorang sepupu yang belum pernah kudengar namanya, apalagi beritanya. Well, mungkin my dearest Mom pernah bercerita, namun aku yang lahir jauh dari tanah kelahiran Mom tercinta, tak pernah memperhatikan tentang saudara-saudaraku yang tinggal di Gorontalo.

Ceritanya begini.

Kalau kenarsisanku muncul, aku suka menulis ‘nana podungge’ sebagai keyword di search engine google. Dan, muncul lah site-site blogku yang tersebar di mana-mana (benar-benar narsis yah? LOL). Hari Sabtu kemarin agak berbeda karena site yang muncul paling atas adalah blogku yang beralamat di http://afeministblog.blogspot.com.

“Lah, emang biasanya yang muncul site mana Na?”

Biasanya site milik A Fatih Syuhud di blognya di wordpress atau mana lah begitu, aku ga begitu ingat. Tentu saja posting Fatih yang mem’feature’ kan blogku yang muncul.

Hari Sabtu kemarin ada site yang memuat blogku yang muncul sebagai “Blogger of the Week” di nomor 40. Artikel itu merupakan artikel yang sama, yang ditulis oleh Fatih, namun dimuat di site yang berbeda. Yang membuatku tertarik meng-klik site itu karena ada dua komentar yang ditulis oleh seseorang. Tentu saja hal ini sangat menarik bagiku. “Who on earth left comment on a post about my blog?”

And ... V I O L A ...

Kedua komentar itu ditulis oleh seseorang yang mengaku bernama Basir Podungge. We have the same family name! Dia mengaku sebagai sepupu yang belum pernah kukenal. Tentu karena merasa terheran-heran seorang ‘Podungge’ dia temukan di internet, sehingga Basir pun menulis komentar. Karena tulisanku berbahasa Inggris, dan artikel yang meng’highlight’ blogku itu pun berbahasa Inggris, rupanya Basir agak ragu apakah aku bisa berbahasa Indonesia, sehingga dia menulis komentar dua kali, pertama dalam Bahasa Indonesia, yang kedua in English. Dia dengan sengaja menulis nama seorang sepupu yang kukenal sejak aku kecil karena dia dulu sekolah di Pondok Gontor, sehingga tiap libur panjang dia berlibur ke Semarang. Nah, karena dia menulis nama kak Ramiez inilah, aku jadi yakin banget bahsa Basir Podungge ini benar-benar sepupuku.

So?

Aku langsung kirim sms, menyapanya, memperkenalkan diri, sembari memberitahunya bahwa akhirnya aku menemukan komentar yang dia tulis bulan Juli 2007. Dia pun terheran-heran mengapa aku baru menemukannya 10 bulan kemudian.

Ah, jadi ingat awal-awal aku menemukan cara untuk semakin menjadi narsis. LOL. Abangku yang menunjukkan padaku bahwa feature VIEW MY STATS yang kupasang di blog bisa memberitahuku banyak hal. ‘nana podungge’ merupakan salah satu keyword yang ‘membawa’ orang untuk mengunjungi blogku. Dengan googling sembari mengetikkan namaku sebagai keyword membuatku terheran-heran, seorang A Fatih Syuhud telah memilih blogku untuk di’highlighted’, membaca tulisanku dengan seksama, sebelum membuat tulisan tentang aku. (Makanya ‘google page rank’ ku melonjak ke angka 3!!!) Selain itu juga masih ada banyak orang lain lagi yang dengan mengagumkan ‘mempelajariku’ lewat tulisan-tulisanku.

Jadi ingat sebuah komentar ‘asal’ yang ditulis oleh seseorang yang tidak jelas latar belakangnya di blog http://afemaleguest.blog.co.uk yang menuduhku karena unhappily married I turned to be a feminist who hates men. “Find another foolish guy to marry you, then go home, clean the house, cook, and do ‘women’s job. Don’t write here anymore!” katanya.

Anyway, kebanggaan dan kepuasan seorang penulis adalah tatkala dia mengetahui bahwa tulisannya dibaca orang, apalagi sampai ditelaah, meskipun akhirnya beberapa orang akan ‘membacaku’ dengan ala kadarnya, yang tentu saja akan menghasilkan ‘bacaan’ yang sempit pula.

“Once your writing is published, you, as the writer, are already dead!”

Tentu begitu komentar para strukturalis sejati. LOL. Ya biarin aja deh. LOL.

Btw, kembali ke sepupu yang ‘telah menemukanku’ di belantara dunia maya, aku akan terus dengan kehidupanku di kota kelahiranku, Semarang, dan dia di kota kelahiran my Mom, Gorontalo. Aku tahu di belahan bumi Sulawesi Utara sana aku punya banyak saudara yang belum pernah kukenal langsung.

FBB U 20.21 050508

Nana si Narcissist

Tatkala iseng ngenet begini (wow ... tumben si Nana punya waktu ISENG NGENET, padahal akhir-akhir ini suka sok sibuk, mampir ke warnet ga sempet lah, apalagi iseng begini, huehehehe ...) Nana kumat narsisnya. LOL. Biasanya sih kalo lagi kumat narsis kayak gini, aku nulisnya di blog friendster. But berhubung friendster sedang ada error, (katanya ada 'temporary finance', kayak yang biasanya kutemui di multiply), maka aku menuliskan kenarsisanku pun di blog mutliply aja. huehehehe ...
Bagaimanakah cara Nana iseng ngenet?
Pertama, buka www.google.com
Kedua, ketik 'nana podungge' sebagai keyword di search engine. V O I L A ... it will put me on a site full of NANA PODUNGGE things.
Ketiga, klik aja salah satu site address yang nongol. Btw, semenjak mengetahui bahwa 'nana podungge' PERNAH menjadi salah satu keyword yang sering membawa para browsers (maksudku orang-orang yang sedang browse di internet) (aku tahunya dari facility VIEW MY STATS yang kupasang di blog http://afeministblog.blogspot.com) beberapa bulan lalu, aku hafal site-site yang sudah pernah kukunjungi (misal blog A Fatih Syuhud yang highlight blogku di alamat yang sama, blog milik Marissa Duma, dll.) This means, ketika aku memuaskan kenarsisanku kali ini, aku mencari-cari site yang belum pernah kukunjungi.
Kali ini, pengembaraanku mampir ke site berikut:

http://greatliteraryworks.blogspot.com/2008/04/feminist-cultural-studies-and-javanese.html

Di situ ditampilkan review yang kutulis atas buku AQUARINI PRIYATNA atas bukunya "Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop". Keren kan? (namanya juga narsis, muji diri sendiri lah tentu, huehehehe ...)

Btw, banyak site lain yang telah menghilang dari google.com, yang bener-bener keren juga menuliskan tentang aku, termasuk dari Jennie S. Bev. huehehehe ...

Udah ah, harus balik ke kantor nih. (Barusan seorang teman sms, "Ma'am ... namamu di tulis di announcement board, gara-gara belum ngumpulin monthly report kelas EC2!!!" huehehehe ...)

KPDE 15.40 030508

Angie's 17th birthday

Angie reaches the age of seventeen!!!

Rasanya baru kemarin dia suka nggigitin putingku tatkala dia sedang minum minuman terbaik untuk bayi—ASI. Atau mungkin dalam hal ini ASI bisa diganti menjadi ASMN, singkatan dari ‘air susu Mama Nana’. LOL. LOL. Kalau kemudian aku meringis kesakitan, Angie memandangku dengan sorot mata bandel plus iseng, seakan bertanya, “Sakit ya Ma? Kok Angie enak aja? Abisnya, ‘bittenable’ sih...” gitu kali makna pandangan mata itu. LOL.

Aku ingat tatkala aku duduk di bangku SMA, banyak teman sekolahku yang khusus mengadakan ‘perayaan’ pesta ulang tahun yang ketujuhbelas. Aku—yang di’juluk’i Abangku korban norma yang dibuat oleh masyarakat; and he is 100% right—pun ikut-ikutan. Hal ini membuatku menerka-nerka apakah Angie pun ingin merayakan ulang tahunnya yang ketujuhbelas, yang jatuh pada tanggal 8 April 2008 yang lalu. Namun ternyata ‘Bintang Cantik’ku ini tidak tertarik untuk mengadakan apa yang dulu diselenggarakan oleh my dearest Mom untuk anak perempuannya yang pertama.

No matter what, aku tetaplah menganggap bahwa angka 17 merupakan angka spesial, sehingga aku ingin melakukan sesuatu yang spesial pula buat anak semata wayangku itu. Pilihanku adalah, membelikannya sebuah hape baru. Untuk mendapatkan jenis hape yang dia inginkan, aku beli tabloid PULSA yang khusus mengulas berbagai macam hape. Setelah menimbang-nimbang (dari segi features yang ada, plus harga yang ‘ekonomis’ J, akhirnya Angie memilih hape Sony Ericsson K550i.

Selain itu, sebenarnya aku ingin menraktir Angie dan beberapa teman dekatnya. Alasan yang kukemukakan kepada Angie, “Mama pengen liat teman-teman Angie yang biasa Angie sebut namanya, such as Lia (yang suka manggil Angie “Cinta”, lha kok saingan dengan nyokapnya? LOL), ‘Rampinq’ (bukan nama sebenarnya tentu saja, hanya nama julukan, saking rampingnya anak satu ini) dan beberapa yang lain. Rencana makan siang bersama ini tanggal 9 April karena kebetulan aku masuk ngajar jam 5, sehingga aku bisa ikut menemani anak-anak itu makan siang, sepulang dari sekolah jam 13.30, dan ga perlu terburu-buru. Namun, ternyata rencana ini gagal lantaran kelas Angie hari itu menghadapi pertandingan sepak bola dengan kelas lain (dalam rangka ‘liga SMA3 Semarang’). Angie memilih membatalkan acara makan siang, dan ikut menjadi ‘penggembira’ tim sepak bola kelasnya, bersama teman-teman sekelasnya.

Diam-diam, teman-teman Angie merencanakan sesuatu, untuk membuat Angie selalu ingat peristiwa ulang tahunnya yang ketujuhbelas. Guess what?

Mereka memberi Angie hadiah yang serba Mickey Mouse (untuk alasan yang private, aku tidak menuliskannya di sini mengapa Angie suka banget pada Mickey Mouse akhir-akhir ini. J) mulai dari tempat hape, tempat pensil, gantungan hape, ketiganya dihiasi gambar Mickey Mouse, plus boneka Mickey Mouse, dan boneka mungil Mashimaru (if I am not mistaken to remember the name. LOL.)

Selain itu ...

Seusai pertandingan sepak bola yang berakhir seri, Angie di’hujani’ tepung terigu oleh teman-temannya. Plus ... di’kucurin’ telur dari atas kepala sampai kaki, sehingga praktis Angie berbau amis seluruh tubuhnya, termasuk seragam sekolah, tas, sampai sepatu dan kaos kaki.

Sampai hari ini (Senin 14 April 08) Angie masih komplain bau amis telur yang menurut hidungnya masih menempel di seragam sekolahnya, meskipun telah dicuci berkali-kali, direndam di dalam air yang dicampur pewangi dan pelembut, plus disemprotin parfum sampai setengah botol. LOL.

Hari Minggu 13 April 08 kemarin aku mengajaknya ke salah satu toko yang berjualan hape, yang terletak di jalan Singosari Raya. Aku membelikannya hape yang dia inginkan (karena ada cybershot) K550i. Sangking senangnya dengan hape yang berwarna hitam cute itu, waktu kita berdua mampir di SANTIAGO, rumah makan tempat kita makan siang, Angie menjadikanku model saat dia mencoba-coba kamera yang ada di dalam hape barunya. LOL. Sesampai di rumah, ga henti-henti dia mencium pipiku.

Btw, tatkala membaca SANG PEMIMPI, novel kedua Andrea Hirata dalam tetralogi LASKAR PELANGI, ada satu adegan yang sangat menyentuh perasaanku, tatkala  Ikal mengekspresikan rasa sayang, hormat, dan kekagumannya kepada ayahnya, karena sang ayah tetap merasa bangga kepada anak kelimanya itu, meskipun sang anak ‘terjungkal’ dari rangking 3 ke rangking 75.

“ ... dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.” (halaman 155)

Jika ada pepatah yang mengatakan “cinta seorang anak (konon hanya) sepanjang galah, sedangkan cinta ibu kepada anaknya sepanjang jalan”, aku ingin sekali satu saat nanti, Angie pun mengekspresikan cintanya kepadaku, “Sayangku pada Mama tak akan lekang dimakan usia.”

Happy birthday, my beloved daughter.

Wish you all the best of the best for your life.

I have always loved you deeply.

And I will always love you forever.

PT56 140408

Wanita Mulia Berumah di Surga

Beberapa minggu terakhir di milis JURNAL PEREMPUAN sedang heboh membahas artikel Katrin Bandel di harian Republika, yang berjudul lumayan bombastis "Membongkar Kasus 'Politik Sastra Gombal'. FYI, milis JP penuh dengan orang-orang akademik yang cerdas dan berpengetahuan luas, yang membuatku terpaku membaca polemik tentang SAMAN novel perdana karya Ayu Utami versus artikel Katrin Bandel tersebut.
Btw, ternyata polemik di JP itu akhirnya melebar ke beberapa milis lain, seperti milis "Apresiasi-Sastra", "PPIIndia", juga "Sastra-Pembebasan". Tatkala aku iseng menjenguk website milis SP, aku nemuin cerpen di bawah ini, sebagai ungkapan 'selamat datang' kepada Mariana Aminudin, dari jurnal yang berjudul JURNAL PEREMPUAN.
Cerpen ini menohok alam pikiranku, yang membuatku berpikir, kali aja pengunjung blogku akan suka ikut membacanya.
Happy reading. :)

WANITA MULIA BERUMAH DI SURGA
oleh Rahmat Hidayat

1. Mariana Bangkit dari Kubur





Tepat pada malam hari keempat puluh tujuh, saat dunia tengah
berharap-harap cemas menanti kabar terakhir dari Paus yang tengah
gering, Mariana memutuskan untuk bangkit dari kubur. Ia menyingsingkan
kafan penutup tubuhnya, lalu mulai merangkak naik. Mariana menjebol
kuburannya sendiri dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Lantas adegan
yang tercipta saat pelan-pelan tanah kuburan yang telah bertembok
tiba-tiba bengkah berbarengan dengan amblasnya nisan ke dalam tanah,
semestinya hanyalah ada dalam film-film horor lokal. Tapi ini bukan
adegan dalam Sundel Bolong di mana seorang perempuan hamil yang tewas
penasaran bangkit untuk menuntut balas. Sama sekali bukan. Ini adalah
kebangkitan dari kubur seorang perempuan yang tidak sedang mengandung
saat meninggal, meski beberapa minggu lewat baru saja melahirkan janin
beku dan biru. Ini kematian seorang perempuan terhormat, seorang istri
dan ibu teladan. Kematiannya wajar dan jamak serupa kematian ahli-ahli
fikir. Ia tidak mati penasaran. Ia mati sesuai dengan prosedur baku.
Sakit, sekarat dan mati. Di ujung hayatnya, ia meninggalkan petuah dan
nasehat untuk suami dan kedua anaknya yang berangkat remaja. Ia mangkat
secara baik dan benar.

Makam yang telah tertembok rapi dan bagus itu pun jebol
berantakan bagai termeriam. Mariana melayang naik, kini telah berdiri
di samping makamnya sendiri. Sejenak ia merasa sayang telah menjebol
kuburannya yang apik dan permai. Pasti mahal, pikir Mariana. Kak Saut
pasti telah banyak mengeluarkan uang untuk kuburannya. Lihatlah, marmer
merah jambu yang kini bersisa puing. Merah jambu warna kesukaannya, Kak
Saut tahu itu. Dan ada sesuatu yang terukir di pelat pada batu nisannya
yang kini terguling.

Ia mendekat, berlutut, membalik nisan yang terguling. Ia dapati nisannya
berukir epitaf indah keemasan. Deretan huruf yang seketika membuatnya
terharu biru.



Terbaring dengan tenang, istri tercinta dan ibu terkasih

Wanita mulia yang berumah di surga

Mariana AS

Lahir 1 Januari 1968

Wafat 14 Februari 2005




Maka Mariana merasa dadanya menghangat. Lihatlah, lihat. Kak
Saut tak melupakannya. Kak Saut mencintai dan memuliakannya. Epitaf
indah ini adalah buktinya. Maka kelirulah engkau wahai malaikat penjaga
kubur!

Ada yang berdesir di belakangnya. Mariana berbalik. Di bawah
cahaya bulan ia dapati si malaikat penjaga kubur mengapung dan
berpendar di atas sebuah makam. Dengan sepasang sayap serupa dua bentang
kepak angsa (putih lembut demikian bercahaya!), si malaikat tampak teduh
dan indah. Mariana menelan ludah sebelum berujar. "Aku rasa kau
keliru."

Si malaikat melayang mendekat tak menjejak. "Jangan
bilang kau berubah pikiran, Mariana."

"Tapi lihatlah," Mariana menuding makam dan nisannya
yang porak poranda, "suamiku jelas mencintaiku. Sebab untuk apa ia
membangun nisan merah jambu kalau bukan karena cinta untukku?"

"Karena sebentuk makam dan nisan merah jambu kau pikir
suamimu benar mencintaimu?"

"Tulisan di nisan itu…."

Si malaikat tertawa. Sayapnya terguncang-guncang. Beberapa
lembar bulu putih melayang jauh dan lenyap menjadi cahaya yang sebentar.

"Mariana, Mariana. Semikian percaya engkau pada suamimu?
Tidakkah engkau mengingat segala hal yang kita bicarakan bersama saat
kau masih di liang kubur?"

"Aku ingat, tapi kau bisa saja keliru."

"Aku boleh keliru. Tapi waktu itu kau sendiri juga mulai sangsi. Kau
sendiri yang memutuskan untuk bangkit dan membuktikan semua ucapanku.
Aku hanya memberimu tawaran. Ingat itu."

Mariana terdiam. Empat puluh tujuh hari yang lalu saat upacara
pemakamannya telah usai, ia ingat saat itu berbaring dalam liang
lahatnya dengan harap-harap bahagia. Ia telah mangkat, dan ia bisa
mendengar bunyi terompah para pelayat satu persatu beranjak meninggalkan
makamnya. Lahat yang gelap tak buatnya cemas. Keyakinannya membuatnya
penuh percaya diri menghadapi alam kubur. Ia seorang hamba yang baik dan
Tuhan pasti kasih padanya. Ia tak pernah lupa bersembahyang. Ia berusaha
tak menyakiti orang lain atau mahluk lain. Jika pun ia alpa dan hilaf,
sebisa mungkin ia akan beroleh maaf dari sesiapa yang ia sakiti. Tapi di
atas segalanya ia adalah istri dan ibu yang baik. Kak Saut selalu
memujinya sebagai istri yang saleh dan taat.

Kata Kak Saut, ia adalah istri yang sempurna. Istri yang baik adalah
istri yang senantiasa taat dan berbakti pada suami, mendidik anak,
menjaga kehormatan diri, memelihara kerukunan dan keharmonisan rumah
tangga, dan sebisa mungkin dengan sekuat tenaga berusaha menyenangkan
suami.

Taat berbakti dan berusaha menyenangkan suami ternyata berkonsekuensi
pada banyak hal. Mariana sadar benar itu. Tapi cinta Tuhan ada pada
cinta suami. Mariana ingat, suaminya selalu berkata bahwa seandainya tak
terbentur pada dosa sirik, Tuhan akan perintahkan para istri untuk
bersujud dan menyembah suami. Selama hidup Mariana berupaya sekuat
tenaga untuk menjadi hamba yang baik, istri yang sempurna, menyenangkan,
dan dikasihi suami. Maka Tuhan pun akan kasih padanya. Mariana masih
mencamkan semua itu saat berbaring dalam kegelapan liang lahat menunggu
tibanya para malaikat. Menanti, dengan ketenangan seorang hamba yang
saleh.

* * *

Lalu saat sesosok malaikat itu (Mariana tak habis pikir
sebab setahunya mereka harus datang berdua) datang mengambang dan lahat
tiba-tiba melapang, Mariana terpesona beberapa saat oleh keindahan rupa
sang malaikat. Tapi ia sadar dan telah bersiap. Inilah masa tanya
jawab dan Mariana telah bersiap dengan segenap kunci jawaban.

Cepat lugas ia jawab segala pertanyaan dengan tuntas. Persis
seperti yang dibayangkannya. Segala jawab atas pertanyaan telah berada
di ujung lidahnya dan hanya perlu meloncat keluar saat pertanyaan datang
mengundang. Si malaikat mengangguk-angguk, berdehem sejenak, lantas
kemudian melayang berputar mengelilinginya.

"Sempurna."

Mariana tersenyum puas. Mengucap syukur dalam hati.

"Tapi kita lupakan pertanyaan-pertanyaan bodoh tadi. Aku penat harus
menanyakan hal yang sama berulang-ulang pada setiap yang mati.
Menjemukan!"

Mariana, perempuan saleh yang kini mangkat, terkesiap. Ini tak ada dalam
referensinya. Tak pernah diketahuinya ada malaikat yang mengaku bosan.
Bukankah telah menjadi tugasnya? Bukan malaikat adalah mahluk yang
paling taat? Bukankah mereka maksum dan suci…

"Ya, ya, ya. Aku tahu apa yang ada dalam dipikiranmu. Bahwa kami
diciptakan tanpa cacat dan selalu penuh pengabdian. Bahwa kami serupa
robot dengan program maha sempurna," Si malaikat tertawa kecil,
berputar lagi, menatap Mariana yang melongo. "Tapi sudahlah.
Sekarang lebih baik kau ceritakan tentang hidupmu. Hidup kamu
sendiri."

"Hidup saya?"

"Ya. Hidup kamu. Tepatnya, apa yang telah kau lakukan dalam
hidupmu." Si malaikat menatap Mariana tepat di manik matanya.

Mariana mengerutkan kening. Lagi-lagi tak pernah terlintas dalam
benaknya pertanyaan semacam itu akan terarah padanya di alam kubur. Tapi
ia menurut juga. Terbata-bata ia bercerita. Dalam sendat ia katakan jika
ia adalah ibu yang baik. Berusaha ia utarakan kalau ia adalah istri yang
sempurna tanpa cela. Ia patuh pada suami tanpa prasyarat, tanpa pamrih.
Ialah istri dan ibu dengan huruf kapital dan tanpa kesalahan besar.

Si malaikat mengangguk-angguk. "Apa lagi?" tanyanya.

Mariana menelengkan kepala. Apa lagi? Apa lagi? Cuma itu. Ya, cuma itu.
Mendadak ia tersadar jika kisah hidupnya hanya berkisar dan terhenti
pada hal yang itu-itu saja. Menjadi istri dan ibu yang baik. Kisah
hidupnya terangkum hanya pada beberapa kalimat sederhana, betapa ia
adalah pengabdi yang baik bagi keluarga. Mariana diam-diam merasa
gamang.

"Sudah selesai," katanya terus terang.

Si malaikat mendengus tiba-tiba. "Hanya itu? Kau berpikir itu sudah
cukup?" Ia melayang berputar mengelilingi Mariana.

"Tapi bukankah itu yang tertera di kitab suci? Juga ujaran-ujaran
itu? Bukankah Tuhan menginginkan hal seperti itu? Bahwa seorang istri
harus patuh pada suami? Cukup dengan itu dan ibadah kepada Tuhan pintu
surga melapang untuk wanita?" Mariana berputar mengikuti malaikat
yang mengapung berkitar.

Si malaikat tertawa melengking. Sayapnya berkepak-kepak. Cahaya
berkeredapan di mana-mana oleh bulu-bulu yang berjatuhan dan melenyap.

"Mengapa? Mengapa segalanya harus terserah suamimu? Mengapa
menghambakan hidupmu hanya pada suamimu? Engkau juga manusia, sama
seperti suamimu. Tidakkah engkau juga punya kehidupan, cita-cita,
impian?"

"Hidup saya adalah mengabdi pada suami dan keluarga." Mariana
bersikukuh.

"Dan siapa yang mengatakan harus seperti itu?"

"Aku mau seperti itu…."

"Benar?"

Mariana tergeragap sebelum menjawab. "Y-ya, Ya. Pula di kitab suci,
sabda orang-orang suci…"

Si malaikat mengibaskan tangan dengan tampang jemu. "Aku tidak
bertanya tentang apa yang kau baca atau dengar, atau apa yang kau
percaya. Aku tanyakan apa yang kau mau." Si malaikat menggamit
udara, dan sekonyong-konyong di tangannya tergeber sebuah kitab besar.
Si malaikat membuka lembar demi lembar dengan rupa tak sabar.

"Di sini dikatakan, kau tak boleh ke luar rumah tanpa seizin
suamimu. Benar begitu?"

"Ya, tapi…."

"Kau punya beragam keterampilan. Kau dahulunya seorang guru."

"Ya. Tapi saya memutuskan untuk menjadi guru bagi anak-anak saya
sendiri."

"Tapi kau sering merindukan murid-muridmu. Benar, kan?"

Mariana terdiam.

"Lalu kau tak boleh menerima tamu lelaki tanpa seizin suamimu. Benar
begitu?"

"Tentu saja. Tapi…"

Si malaikat memintas tak sabar. "Lalu kau juga harus mengatakan iya
terhadap hasrat suamimu, sebab adalah kewajiban untuk tunduk terhadap
gairah suami, benar begitu?"

Mariana merapatkan geraham. Ia tersinggung. Pikirnya masalah tempat
tidur tak semestinya diseret masuk.

"Juga kau tak boleh memakai kontrasepsi lantaran suamimu melarang,
meski kau telah punya anak lima dan kau punya penyakit yang membuat
setiap kehamilanmu bagai sebuah perjudian dengan maut?"

Mariana bungkam. Ia ingat bayinya yang biru. Ia ingat betapa ia harus
terus menerus hamil dan melahirkan. Demi umat, kata Kak Saut, dan demi
Ia ingat olok-olok tetangga yang mengatakan dirinya bagai pabrik bayi.

Si malaikat menatap Mariana. Pandangannya mengendur dan berubah iba.
"Mengapa semua harus terserah suamimu? Bahkan tubuhmu sendiri pun
bukan lagi milikmu. Mengapa? Mengapa nasib dan bahkan keinginanmu tak
lagi sepenuhnya menjadi hakmu? Engkau manusia, dengan segenap keluhuran
dari Tuhan. Tak pantas menjadi budak suamimu, budak segala perangkat
aturan, sampai menistakan harkatmu sendiri."

Mariana mulai kesal. Sesaat lenyap segala kekagumannya pada rupa si
malaikat. "Kamu," tudingnya, suaranya meninggi mendekati ambang
tangis. "Malaikat atau iblis? Kenapa segala yang kau katakan
menyalahi aturan baku?!"

* * *

Di tepi makam yang poranda, Mariana tercenung. Ia ingat, percakapan
panjang dan panas dalam lahad berujung pada keputusan bahwa ia harus
bangkit dari kubur dan menemui suaminya. Lewat interogasi oleh si
Malaikat, ia harus bangun dari kematian, untuk mendapati kenyataan. Kata
si Malaikat, kehidupannya habis tercuci oleh suaminya dan ajaran-ajaran
untuk kepentingan suaminya. Saut suaminya tanpa lelah menyuapinya dengan
segala macam ajaran untuk melestarikan kepatuhannya sebagai seorang
istri. Ia adalah istri tapi juga boneka bagi Saut, suami sekaligus
pemilik, dan saatnya ia harus menuntut apa yang ia dapat dari termiliki
dan kepatuhan sepanjang hayat.

Untuk itu ia harus bangkit. Dan dengan karunia kekuatan dari si
Malaikat, telah ia jebol lahad berikut tembok makamnya. Kini di bawah
kerlip bintang dan gelap langit, Mariana berdiri di tepi makam dengan
tubuh telanjang.

"Mariana, kau harus pergi sekarang." Si Malaikat mendekat dengan
sorot mata ganjil, separuh iba separuh penuh tekad. "Temui suamimu,
di selatan kota tepat di perbatasan. Ada villa di sana. Dengan karunia
dariku kau bisa tiba di sana secepat yang kau mau. "

"Aku ingin pula menemui anak-anakku."

"Tak bisa. Kebangkitanmu bukan untuk anak-anakmu. Tapi untuk segala
hutang piutang hidupmu. Temui suamimu. Dan perkara hidupmu akan terang
benderang."

* * *

Dan di sinilah Mariana. Berdiri di depan pagar villa di luar kota.
Tangannya mencengkeram besi teralis pagar. Gembok pagar telah ia
retaskan sejak tadi. Ia lihat mobil Saut suaminya parkir di depan
gerbang. Sejenak kerinduan pada suaminya membuatnya tertegun-tegun. Kata
si malaikat, suaminya ada di dalam. Kata si malaikat, ia akan menemukan
kenyataan yang sebenarnya.

Ada yang bergerak di balik tirai di ruang tamu. Itu Kak Saut, suaminya.
Sedang berbicara dengan seseorang. Tengah malam begini?

Mariana memicingkan mata. Sosok suaminya yang tengah berbicara dengan
seseorang di ruang tamu membuatnya urung mendorong pintu pagar. Mariana
memicing, penglihatannya ia lipatgandakan, menembus tembok dan tirai.

Di ruang keluarga ia menyaksikan Saut suaminya tengah duduk,
demikian rileks dan seorang perempuan duduk di di sampingnya.
Malam-malam begini Kak Saut menerima tamu perempuan? Mariana yakin
perempuan itu bukan sanak famili suaminya. Ia tahu seluruh sanak famili
suaminya. Lantas mengapa ia ada di situ?

Mariana melihat suaminya mengangguk-angguk sambil
berdehem-dehem.

"Kita toh tidak perlu terburu-buru."

"Tapi kapan? Aku cuma minta waktu yang pasti."

"Sabarlah. Tunggu sampai anak-anak mengerti.Mereka…"

"Tugas Kakaklah yang membuat mereka mengerti." Si perempuan
memintas cepat.

Di luar, dalam kegelapan malam, Mariana semakin penasaran. Perempuan itu
memanggil suaminya dengan sebutkan Kakak. Tapi siapa dia?

"Aku tak enak pada keluarga mendiang istriku."

"Bukankah kau kini bukan bagian dari mereka? Bahkan dulu, kau pernah
berpikir untuk mengawiniku dan saat itu istrimu masih ada. Kata Kakak,
beristri rangkap tak dilarang…"

"Ya, ya, Tapi…"

Kata Kakak waktu itu, Kakak akan membujuknya. Kata Kakak, Kakak bisa
beralasan kalau Kakak tak puas dengan dia, dan berkehendak mengambil aku
sebagai istri lain. Kata Kakak lagi, istri Kakak pasti akan mengijinkan.
Sekarang saat ia sudah tak ada, apa lagi yang kau tunggu? Aku capek main
belakang terus-terus. Sudah tiga tahun! Sudah tiga tahun, Kak!"

"Tapi kau istriku…."

"Iya, tapi disembunyikan terus mene…"

"Dengar, dengar! Kau istriku. Dan kau telah kunikahi. Akad telah
kuikrarkan. Pernikahan kita halal. Cukuplah Tuhan jadi saksi. Sebagai
suami telah kupenuhi segala kewajibanku. Kau tak kekurangan sandang
pangan papan. Rumah ini kubangun untukmu. Jadi diam dan bersikaplah
sebagai istri yang baik!"

Beberapa saat si perempuan benar-benar terdiam. Lalu berujar lirih,
"Aku cuma ingin Kakak mau membawa saya ke keluarga Kakak, ke
orang-orang, memperkenalkan saya sebagai istri Kakak. Tidak terus
menerus sembunyi dalam status sebagai istri simpanan." Perempuan itu
mulai terisak.

Di luar Mariana terpana dengan perasaan koyak. Jadi inilah kenyataan
itu! Kepasrahan dan kepatuhannya terbayar dengan penghianatan. Ia
merasakan dadanya ngilu. Telinganya berdenging. Mariana nyaris terduduk
oleh tungkai yang mendadak lemah. Teralis kini tercengkeram kuat, kini
sebagai penopang. Di dalam di lihatnya suaminya merentak bangkit,
sejenak berujar pada si perempuan yang terduduk diam sembari mengusap
mata.

Kini ia melihat suaminya melangkah keluar dan berjalan terburu-buru. Ia
melayang, menyembunyikan diri dalam gelap rimbun perdu tetamanan di
pekarangan.

* * *

Dalam terpaan gerimis, Saut melangkah terburu-buru. Sepatunya berjibaku
dengan kecibak air di pekarangan. Jika tak ada halangan berarti dua
puluh menit lagi ia akan tiba di sisi lain kota, tempat seorang
perempuan lain menunggu. Ia tersenyum kecil. Perempuan selalu terlalu
mudah diperdaya.

Sesuatu bergetar dalam saku bajunya. Ia merogoh ke dalam. Sejenak
melihat ke layar telepon selulernya. Tersenyum sejenak lantas
mendekatkannya ke telinga.

"Ya. Sebentar lagi aku ke sana."

"Kamu di mana?"

"Di rumah." Ia tersenyum.

"Cepat ya? Aku kangen nih, Yang."

Ia tersenyum. "Aku juga kangen, Sayang. Sampai nanti."

"Mmmuach!"

Telepon dimatikan. Tapi senyum di bibirnya masih terpasang. Puas separuh
geli. Ia kembali melangkah dan senyum itu seolah meningkahi gegas sol
sepatunya menerpa genangan air. Tapi senyumannya itu lenyap seketika,
saat Mariana mendadak melayang muncul dengan kemarahan meluap. Dan
jeritan kengerian tak terperi urung membahana, terhenti di tenggorokan,
saat tangan Mariana terulur menjemput lehernya.

* * *

Hujan berguntur dan pekat belukar menyembunyikan Mariana yang tengah
berjibaku dengan tanah. Mariana menggali bagai kesetanan. Hujan membuat
tanah gembur dalam hutan bagai adonan raksasa dengan sepasang lengan
Mariana sebagai pengaduk. Mariana terus menggali, mengeduk, mengubur,
menimbun, dengan wajah basah oleh hujan dan air mata. Saat sebuah makam
selesai berbarengan dengan hujan yang mereda, langit hanya menyisakan
rinai dan guntur.

Kesumat telah lunas. Mariana menyeka wajah, menghapus air dan airmata.
Lumpur dan tanah menggambari wajahnya. Selesai sudah. Di atas makam
nisan kayu ia tancapkan sepenuh tekad, menembus jauh, jauh ke dalam,
hingga terdengar bunyi gemeretak. Ia pastikan nisan kayu itu menghujam
deras menembus badan Saut suaminya nun di dalam liang.

Nisan kini terpasang kokoh meski oleng, Mariana bisa membayangkan tubuh
suaminya terbaring dalam timbunan tanah dengan nisan menancap di dada,
dan darah yang mengalir keluar bersenyawa dengan tanah.

Selesai semua.

Lantas ia melayang pergi.

Dini hari itu, saat dunia terhenyak menerima kabar kematian Paus, dalam
hutan terkucil di pelosok hutan yang penuh belukar beronak, dengkung
kodok dan lolong serigala, dengan tangan sendiri Mariana telah tuntas
mengubur Saut suaminya. Hidup-hidup.

Sesudahnya, dalam beberapa bulan, di dusun-dusun sekitar hutan, ramai
kabar angin berhembus tentang temuan sebuah makam di tengah kelebatan
hutan. Makam dengan jasad lelaki tanpa kafan terkubur serampang. Makam
dengan nisan kayu terpacak sembarang. Pada nisan kayu tergores tulisan:

Telah terkubur di sini

Lelaki bajingan tak berhati

Layak dikubur dalam makam tanpa nama

Dalam hutan dengan kawanan srigala…



Makassar-Amsterdam, April 2008